Oke Rosgana, “Yoyo Man! Indonesia”

August 22nd, 2008

Oleh : Irma Tambunan

Kedatangannya ke Sudan di Benua Afrika menjadikan Oke Rosgana bak pahlawan muda. “Yoyo man! Indonesia!” demikian anak-anak kecil setempat memanggil-manggil saat ia melintasi sebuah pasar di kota Medanny. Orang yang juga mengenalinya menyebut: Rosgana, the yoyo hero from Indonesia.Oke lalu disambut puluhan jurnalis, dari enam media elektronik dan 15 surat kabar, melalui sebuah acara jumpa pers. Salah satu televisi swasta di Khartoum bahkan secara khusus menghadirkannya sebagai bintang tamu untuk acara Step By Step.Program semi talk show yang disajikan untuk kalangan anak muda ini mengupas perjalanan seseorang menjadi bintang. Oke disorot atas keberhasilannya sebagai bintang yoyo yang mendunia meski di negeri sendiri belum banyak dikenal.

Kedatangannya ke negeri itu, Juni 2007, bukanlah kebetulan. Oke dilirik sebuah perusahaan susu terkemuka setempat untuk mengakrabkan anak-anak terhadap permainan yoyo ke sejumlah kota secara khusus selama lima pekan. Permainan yang mungkin telah diakrabi oleh mayoritas anak-anak itu ternyata mendunia dan cukup bergengsi. Ada anggapan, seorang remaja tidak lagi akan diremehkan apabila telah memiliki kemampuan memainkan yoyo. Semakin tinggi teknik yang dikuasai, orang akan semakin terkagum-kagum kepadanya.

Selama pertunjukan keliling, Oke bermain yoyo di atas truk besar yang diubah menjadi panggung. Setiap hari dilaksanakan dua kali pertunjukan pada sekolah-sekolah internasional di Khartoum. Pertunjukan yoyo juga digelar di kawasan perkampungan, tengah lapangan, taman-taman bermain, pasar, hingga mal. Yoyo diperkenalkan kepada siapa saja tanpa mengenal kelas ekonomi atau warna kulit.

“Banyak orang yang melihat dan antusiasme masyarakat sangat besar terhadap pertunjukan yoyo, bahkan tak hanya anak-anak. Orang tua juga tertarik,” ujarnya.

Hari terakhir di Sudan, Oke dijemput lebih pagi dari biasanya oleh pihak pabrik. Ia sebenarnya mengira bahwa hari itu akan lebih santai karena tidak ada pertunjukan. Ternyata tidak. Serombongan motor polisi, 12 truk, dan puluhan mobil lain mengajaknya berkonvoi sebagai salam perpisahan.

“Aku sangat terharu dengan penghargaan yang mereka berikan,” tuturnya.

Permainan anak kecil

Bagaimana rasa haru itu tidak muncul. Di negerinya sendiri, yoyo masih lebih dikenal sebagai permainan anak kecil di kampung-kampung. Sekarang ini tidak banyak anak yang bisa memainkannya. Yoyo pun sudah jarang beredar di toko-toko mainan.

Oke sendiri baru tertarik kembali pada yoyo sekitar tahun 2000. Saat itu, juara kompetisi yoyo sedunia, Yohanes van Elzen dari Amerika Serikat (AS), datang ke Indonesia untuk mempromosikan yoyo tipe high end.

Teknik bermainnya jauh dari bayangan Oke semasa kecil. “Yang aku tahu, yoyo hanya mainan dari kayu yang dilepas ke bawah dengan tali, lalu ditarik kembali sampai ke genggaman tangan. Tapi, permainan yoyo yang ini ternyata dahsyat,” tuturnya.

Misalnya saja, ada teknik string tricks, memainkan yoyo saat berputar di salah satu ujung tali. Ada lagi, double looping, trik memainkan dua yoyo sekaligus pada kedua tangan. Ini tentu rumit karena otak kiri maupun kanan dimanfaatkan betul. Kalau teknik off string, tali tidak terikat. Yoyo dimainkan di tengah-tengah tali yang dikendalikan oleh kedua tangan.

Van Elzen telah kembali ke negerinya, namun ketertarikan Oke justru semakin tumbuh. Ia pun menjelajahi dunia internet, mencari tahu seluk-beluk permainan ini. Dari situlah bapak satu anak ini baru mengetahui bahwa yoyo adalah mainan tertua kedua di dunia, tentunya setelah boneka. Di Yunani, yoyo dijadikan indikator kedewasaan seseorang. Ketika mampu memainkannya dengan mahir, seorang remaja dapat dinyatakan mulai dewasa dan cerdas.

Dari internet juga Oke mengetahui ada banyak orang yang bergelut dengan yoyo secara profesional. Mereka membentuk milis komunitas pencinta yoyo. Mereka menggelar kompetisi hingga bertaraf dunia. Sejumlah pabrik khusus dibangun untuk memproduksi yoyo-yoyo keluaran terbaru dengan bentuk dan desain beragam.

Saking terobsesinya, Oke membeli tiga yoyo sekaligus seharga Rp 1 juta melalui internet. Bahannya bukan dari kayu, tapi karet padat. “Dulu kita tahu harga yoyo paling-paling Rp 500. Tapi, karena begitu tertarik untuk mempelajarinya lagi, aku bela-belain beli yoyo yang ini. Saat itu aku menganggap, ini yoyo termahalku,” ujarnya sambil menunjukkan koleksi yoyonya yang kini berjumlah 150-an buah.

Mungkin karena sadar harganya mahal, Oke bertekad serius bergelut dengan mainan ini. Dari situlah, ia kemudian menguasai sekitar 30 trik yoyo berikut turunan-turunannya. Ia juga memadukan permainan yoyo dengan gasing.

Desainer yoyo

Ketertarikan Oke tidak hanya bermain, tetapi juga mendesain yoyo. Setelah memenangi sebuah kontes desain yoyo yang diadakan sebuah pabrik di AS, hasil karyanya mulai beredar. Berikutnya, tawaran membikin desain yoyo mulai berdatangan. Pabrik yoyo Hispin dan Radiyoactive di Afrika Selatan, serta YoyoGuy dan Skill Toys di AS, menjadi pelanggan desain buatannya. Tak puas sampai di situ, ia memproduksi sendiri yoyo dengan merek “RozzoR”.

Pakar yoyo dunia mulai meliriknya, lalu mengundang Oke menjadi juri dalam Asia Pacific Yoyo Contest 2006 di Genting Highland, Malaysia. Lalu, sekembalinya ke Tanah Air, staf Dinas Pariwisata Kabupaten Subang, Jawa Barat, ini mencoba mempromosikan yoyo ke sekolah. Di SMAN I Subang, permainan yoyo berhasil menjadi ekstrakurikuler sejak satu tahun terakhir dan Oke menjadi gurunya. Ia juga membentuk komunitas yoyo yang kini beranggotakan sekitar 140 orang di sekitar Subang, Bandung, dan Jakarta.

Yoyo tentunya tidak sekadar permainan. Oke meyakini ini salah satu alat pengolahan otak kanan dan kiri manusia. Ia sendiri merasakan dan memerhatikan, sejak menekuninya, pola berpikir menjadi lebih positif, emosi lebih terkendali, dan jadi lebih tekun. Ia pun menyemangati anak-anak didiknya dalam ekstrakurikuler bahwa permainan ini mendukung aktivitas belajar mereka.

Biodata
Nama: Oke Rosgana
Lahir: Bandung, 20 Oktober 1975
Pendidikan: S-1 Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, tamat 2002
Pekerjaan: Staf Dinas Pariwisata Kabupaten Subang
Istri: Milda Halida (30)
Anak: Hasya Azka Syahida (tujuh bulan)
Membentuk komunitas pencinta yoyo, sekaligus membangun milis yoyoindonesia@yahoogroups.com
Memenangi kontes “30 Menit Menjadi Bintang” yang diadakan salah satu televisi swasta
Menjadi peserta Asia Pacific Yoyo Contest 2005
Menjadi juri Asia Pacific Yoyo Contest 2006 di Malaysia
Mengajar anak-anak bermain yoyo selama lima bulan di Sudan
Desain-desainnya telah dipakai empat pabrik yoyo yang dipasarkan ke seluruh dunia

Sumber: Kompas, Senin 22 Oktober 2007

Kamis pagi, 21 Agustus 2008, sebuah pesan pendek masuk ke no handphone saya. Dari Oke SR95 Yoyo, isinya : ‘Salam, apa kabar? Wah saya pengen ngisi acara sahur dan buka selama ramadhan ini. Mungkin gak ya. Kalo ada job kabari ya. Makasih. -oke rosgana

Oke adalah kawan satu kampus yang telah lama saya kenal. Mungkin sejak awal tahun 1996, saat dia mulai sering bermain yoyo di lapangan rumput liga film mahasiswa -lfm- itb. Lapangan rumput yang sering saya lewati saat berkuliah dahulu. Bagi saya, oke adalah contoh konsistensi menjadikan sebuah hobi menjadi sebuah mata pencaharian yang justru lebih banyak menghasilkan dibandingkan status dia sebagai calon pegawai negeri sipil di Pemerintah Daerah Kabupaten Subang.

Cak Mul

August 16th, 2008

Oleh : Teguh Supriyadi

“Monggo…” Suaranya ramah menyambut kedatangan kami. “Nuwun sewu. Nggih ngaten meniko panggenan kulo,” seolah membaca pikiran Emak, Cak Mul menjelaskan rumahnya. Rumah yang kecil. Teramat kecil bagi empat orang yang tinggal di dalamnya.

Jangan tanya di mana ruang tamu dan di sebelah mana dapurnya. Karena, begitu masuk dan duduk, Anda akan dapat melihat istri Cak Mul memasak. Jangan pula tanya sofa atau perabot rumah tangga lainnya. Satu-satunya perabot adalah lemari kayu usang tempat menyimpan teve 14 inchi dan bakul nasi. “Monggo lenggah, Bu…” Cak Mul mempersilakan Emak untuk Duduk.

Memandang sekeliling Emak menyandarkan tubuhnya di dekat pintu. Belum ada kata yang terucap dari bibirnya. Matanya yang coklat menyapu seluruh dinding triplek. Sebuah topi menghentikan pengamatannya.

“Kamu sering ke sini, Mas?” pelan, Emak bertanya. Aku hanya mengangguk. Membiarkan pikirannya mengembara. Mengkonstruksi setiap kata tentang Cak Mul. Lelaki paruh baya yang aku kenal sejak 10 tahun lalu. Aku biarkan Emak menatap kasur kusam yang bersandar pada dinding. Aku biarkan dia menyelami setiap sudut rumah dari orang yang sering aku ceritakan karena jasanya semasa kuliah.

Cak Mul. Hanya itulah nama yang aku kenal sejak 10 tahun lalu. Aku tidak tahu dan tidak pernah mencari tahu nama lengkapnya. Juga nama istrinya yang aku panggil Mak. Yang aku hafal hanyalah nama kedua anaknya. Tabah Muhardhika dan Wedha Kumala. Nama yang menurut Cak Mul diambil dari pekerjaannya sebagai penjual “wedhangan malam” nama keren dari penjual “sego kucing”.

Wedha kini duduk di bangku kelas dua STM. Kebangkrutan Cak Mul sebagai penjual “sego kucing” nyaris membuat Wedha tak bersekolah. Kampus Mesen yang berubah fungsi dari sekretariat UKM menjadi kampus D-3 Ekonomi rupanya berdampak signifikan bagi Cak Mul. Tidak ada anak nongkrong. Kuliah selesai jam tiga sore tepat dengan waktu Cak Mul bersiap membuka gerobaknya. Beberapa kali Cak Mul berganti usaha untuk menghadapi pasar yang berbeda. Namun, sampai modal habis pelanggan tidak ada. Cak Mul bangkrut.

“Dahar rumiyin, Bu…” Emak ragu untuk menjawab. Aku berhenti mengingat masa lalu. Segera aku mengambil nasi dan sayur gori. Aku memang sudah terbiasa di rumah ini. Dahulu, hampir setiap Sabtu dan Minggu pasti ke rumah ini. Dan, di dekat pintu tempat Emak duduk itulah favoritku. Aku bisa memandang siapa pun yang berjalan. Melihat anak kecil yang berlari. Juga melihat anjing hitam yang tidur bermalas-malasan. Di dekat pintu di samping lemari kayu ini pula aku sering menghabiskan waktu dengan buku. Dan, di kemudian hari aku baru mengetahui jika rumah inilah buku yang sebenarnya.

Cak Mul adalah buku pelajaran tentang seorang bapak yang tak pernah putus asa dan percaya akan pentingnya menyekolahkan anak. Dengan segala keterbatasannya akan teori, Cak Mul bagiku adalah aktor tulus yang menerima keberagaman. Forum komunikasi antar umat beragaman boleh-boleh saja getol mengampanyekan toleransi. Tapi, di rumahnya yang berdinding triplek, Cak Mul telah melaksanakannya. Tabah–anak pertamanya adalah penganut nasrani. Dan, Wedha anak keduanya seorang muslim.

Istri Cak Mul adalah buku besar dengan beberapa bab di dalamnya. Bab Pertama dan paling penting adalah tentang bagaimana menjadi ibu dan istri yang baik. Sedang Tabah dan Wedha adalah buku anak-anak yang riang dan bebas kelas. Dan rumah berdinding triplek ini juga buku yang sempurna. Yang tak perlu ayat-ayat suci dan perabot tolak bala tapi mampu membentengi penghuninya dari segala pengaruh buruk.

Samping kanan rumahnya tinggal seorang pengedar narkoba. Di samping kirinya seorang penadah barang-barang copetan. Letaknya yang di pojok seringkali dijadikan tempat menyelinap pengamen yang dikejar-kejar aparat. gang sempit di depan rumahnya adalah jalur bebas hambatan minuman keras. Segala yang melawan hukum dan menentang agama bersinggungan di kampung ini. Dan, Cak Mul hanya menyekatnya dengan triplek.

Namun, persinggungan tak berlaku untuk satu hal: Pendidikan. Tembok tinggi di belakang rumah Cak Mul tak mampu dilompati. Bukan saja oleh anak-anaknya. Tapi, hampir semua anak di kampung Purwopuran. Tembok tinggi bukan saja menjadi pemisah antara rumah dan kampus UNS Mesen, tapi pembatas siapa yang berhak kuliah dan putus sekolah.

“Matur nuwun…” Emak beranjak meminta diri. Dengan malas aku menyalami Cak Mul yang selalu tersenyum. Aku masih ingin di sini. Duduk di dekat pintu di samping lemari kayu seperti sepuluh tahun lalu.

Jogjakarta, 21 Januri 2008

Taken from http://blocknotekecil.blogspot.com/

Herman Lantang : Petualang Tua Dengan Jiwa Yang Berkelana

August 15th, 2008

Oleh : Jekson Simanjuntak

Mengenal sosok yang satu ini seakan membawaku menerawang lebih jauh pada kejadian yang terjadi puluhan tahun silam, ketika gerakan mahasiswa mulai di catat dalam sejarah. Dia bersama sobatnya “Soe Hok Gie” lebih memilih berkecimpung di alam, ketimbang menjadi pecundang yang berlagak sok jagoan dan pura-pura berpihak pada rakyat.

Saya masih ingat saat itu, di suatu musim di waktu yang lalu, secara tak sengaja kami bertemu muka dengannya. Tepatnya, tiga tahun lalu, kami berhasil mendahuluinya dalam sebuah tanjakan kecil menuju air terjun Cibereum – Cibodas (Jawa Barat). Saat itu terlihat jelas kelelahan di wajahnya. Walau begitu, di usia yang genap mencapai 63 tahun, semangatnya masih tetap sama, seperti ketika pertama menapak di jalur itu puluhan tahun silam. Kala itu, bersama sahabat karibnya yang begitu melegenda “Soe Hok Gie”, mereka membuka jalur baru menuju Puncak Gn. Pangrango melewati kawasan tersebut.

Hari cukup cerah kala itu, di tandai dengan silau sang surya yang menyerusuk masuk di celah-celah pepohonan hutan sekunder Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP). Berdua dengan dengan seorang sahabat, kami menghadiri undangan Penerimaan Anggota Baru Mapala UI yang rencananya akan di gelar di air terjun Cibereum – Cibodas.

Sejatinya, tak jauh dari pintu rimba, kami telah melihat sosoknya yang renta berjalan perlahan dengan seorang tua lain yang ternyata masih sahabatnya, menapak beriringan ditemani seorang wanita muda yang belakangan ku ketahui, ternyata anggota Mapala UI (MUI) yang bertugas untuk sebagai pemandu bagi kedua orang tua tadi.

Sadar kami telah melaluinya, dalam kesempatan istirahat, kami bertemu lagi dengan rombongan kaum tua tadi. Kali ini, mereka berhasil mengejar ketertinggalannya, setelah istirahat terlalu lama. Terhadap wanita tadi, ternyata sang teman pernah bertemu dengannya di sebuah kesempatan. Singkat cerita, pertemuan itu menjadi perjumpaan kami yang pertama, dengan tokoh yang namanya begitu melegenda.

“Siang om, istirahat dulu, ntar lanjut lagi!”, sapaku sebagai pembuka pembicaraan. Dengan wajah sinis, ia langsung membalas; “emang gua om lu!”. Di balas dengan perkataan demikian, saya langsung memutar otak. Kira-kira apa yang salah dengan ucapan saya, ya? Belakangan kami ketahui, ternyata orang tua itu, tak senang bila di panggil dengan sapaan om, apalagi bapak. Dia lebih senang di panggil “abang” seperti sebutan untuk dirinya puluhan tahun silam. “biar lebih akrab”, kilahnya. Padahal di usia senja sekarang ini sebutan om, paman, bapak or opa sepertinya lebih layak untuk dirinya.

Sejak kuliah dulu, nama itu begitu lekat dengan tokoh-tokoh penggemar kegiatan alam bebas pertama di Indonesia. Maklum saja, mereka mulai menggelutinya sejak dekade 60-an, ketika gerakan mahasiswa mulai terpecah, dimana banyak diantaranya memilih sebagai oportunis ketimbang menjadi pejuang sejati. Tak banyak diantara mereka yang eksis sebagai demonstran, seperti Soe (baca: Soe Hok Gie) dengan sahabatnya Herman Lantang, yang ternyata memiliki hobi unik, yakni mendaki gunung.

Menyebut nama terakhir, mungkin tak banyak orang yang pernah tahu. Namun, bagi aktivis alam bebas dan komunitas pencinta alam, nama itu telah menjadi semacam ikon, tentang petualang generasi pertama yang dimiliki Indonesia.

Aku juga masih ingat betul dalam buku Norman Edwin yang berjudul “Mendaki Gunung Sebuah Tantangan dan Petualangan”, fotonya terpampang gagah, ketika mengajar anak-anak baru Mapala UI di sebuah tebing batu di kawasan Citatih – Jawa Barat. Di foto itu, ia terlihat duduk  di sebuah teras kecil, sembari melakukan belay atas (baca: pengaturan tali dari atas) menuntun pemanjat pemula di bawahnya.

Tiba di Base Camp

Sepanjang jalan menuju base camp yang di dirikan tak jauh dari air terjun Cibereum, kami saling bercengkerama tentang petualangannya yang sangat melegenda. Seperti sudah kuduga, ia tetap rendah diri, dengan menganggap semua petualangannya tak lebih dari pengenalan diri sendiri ketika bersahabat dengan alam. “alam tak kan pernah sanggup kita taklukkan”, imbuhnya.

Di sebuah kesempatan, ia juga bercerita banyak tentang pendakiannya ke Carstenz Pyramid di Papua pada era 70-an. Saat tak banyak orang pernah menggapai puncaknya yang selalu terselubung es abadi, mereka dengan nama besar Mapala UI, menjadi manusia indonesia pertama yang menginjakkan kaki disana.

Walau begitu, selalu saja ada cerita unik yang mengikuti petualangan mereka. Di sebuah tempat istirahat yang aku sendiri sudah lupa berapa kali berhenti sejak yang pertama, saking terlalu seringnya istirahat, Bang Thaib – sebutan untuk teman tuanya yang satu lagi- mulai bercerita, tentang betapa beraninya Herman Lantang kala itu.

Saat melakukan pendakian perdana di bumi cendrawasih, mereka (baca: MUI) hanya bertiga, yakni; Thaib, Herman dengan seorang lagi yang aku sudah lupa namanya. Di sebuah kesempatan, Herman sempat mengejar-ngejar seorang porter dari suku papua, yang mereka anggap keterlaluan. Pasalnya, setelah semua diberi, baik honor guide, pakaian serta perlengkapan, ia masih memprovokasi anggota porter yang lain untuk protes. Sontak, Herman yang saat itu darah mudanya gampang menyala, langsung menuding orang tersebut. Bahkan, tidak puas dengan aksi itu, ia malah mengejar orang papua tersebut dengan golok terhunus. Melihat itu, si papua langsung lari tunggang langgang menuju desa dan tak kelihatan lagi batang hidungnya, bahkan sampai ekspedisi mereka selesai.

Thaib, yang melihat aksi nekat tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala. Gak percaya temannya bisa melakukan aksi se-nekad itu. “ Emang dia dasar edan, orang papua di kejar-kejar pake golok. Padahal, kalo mereka mau melawan, mungkin bisa aja. Wong kita cuma bertiga, sementara mereka jumlahnya puluhan orang”, tukas Thaib di sela-sela pembicaraan kami kala itu.

“justru itu, gua berani! Lagian dia yang salah, dia juga bukan koordinator porter dan porter yang lain tak ada yang protes alias semua fine-fine aja. Eh, malah dia yang nyolot. Langsung aja gua kejar, biar dia tahu rasa” sahut Herman kemudian.

Mendengar itu aku, hanya senyum-senyum sendiri. Dan, biasanya, cerita-cerita seperti ini tak pernah keluar di laporan perjalanan, apalagi di media massa.

Tak puas dengan cerita itu, kisah mereka masih berlanjut dengan cerita lain yang tak kalah seru, seperti ketika pendakian ke Gn. Semeru memperingati 30 tahun tragedi yang merenggut nyawa putra terbaik bangsa – Soe Hok Gie- dan seabrek petualangan yang mereka lakukan di tanah air. Dari sekian banyak, salah satu yang masih saya ingat adalah pendakiannya ke Gn. Kerinci di tahun 2000, yang sempat menghebohkan banyak kalangan. Pasalnya, usia lanjut, menjadi salah satu kekhawatiran para ranger yang menjaga gunung tersebut.

Seperti biasa, jarak yang jauh, selalu saja tak terasa, jika dilalui dengan perasaan gembira. Sama seperti saat itu, tak lama berselang, kami pun berhasil menggapai base camp yang ternyata telah di penuhi oleh anggota MUI yang lain. Beberapa buah tenda tampak menghiasi kawasan yang berada persis di sebelah jalan.

Sejurus berlalu, kami pun sibuk dengan aneka kegiatan, mulai dari mendirikan tenda hingga memasak. Sementara itu, secara perlahan pancaran sang surya mulai menjauh berganti gelap yang berpadu indah dengan ribuan orkestra jangkrik hutan.

Sungguh, aku rindu suasana seperti ini.

Tentang Herman Lantang

Herman Lantang adalah mantan mahasiswa jurusan antropologi di FSUI dan juga mantan ketua senat Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 60-an. Dia juga salah satu pendiri Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UI dan pernah mengetuai organisasi itu pada periode ‘72—’74.

Bersama sahabatnya, Soe Hok Gie, dia juga menjadi inspirator gerakan demo long march mahasiswa UI untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno pasca G 30 S dan semasa Tritura.

Sampai sebelum film biografi “GIE” muncul di layar perak, tak banyak orang yang menggubris kehadiran tokoh yang satu ini, kecuali, lagi-lagi, komunitas pencinta alam, yang sangat mengagungkan sikapnya yang tetap rendah hati.

Sebenarnya, pria tua yang kini lebih banyak menghabiskan sisa hidupnya di rumah, dilahirkan di sudut kota kecil -Tomohon-, sebuah kota administrasi di propinsi Sulawesi Utara, 67 tahun silam. Dalam buku baptisnya ia diberi nama: Herman Onesimus Lantang.

Kegemarannya terhadap alam pun mulai timbul ketika ayahnya yang saat itu berprofesi sebagai tentara sering mengajaknya keluar - masuk hutan di kawasan Tomohon untuk berburu. Dari situ, lambat laut, kecintaannya terhadap hutan yang sarat aroma sarasah dan petualangan timbul.

Lalu, setelah tamat dari Europrrshe Lagere School; SR GMIM4 (baca: setaraf SD), herman kecil melanjutkan ke SMPK Tomohon. Herman mulai hijrah ke ibukota bersama orangtuanya yang saat itu dipindahtugaskan ke daerah baru. Kemudian di Jakarta inilah ia melanjutkan kembali pendidikan formalnya, ketika di terima di SMA 1 (Budi Utomo) pada tahun 1957.

Tak puas sampai disitu, Herman mulai melirik perguruan tinggi yang menurutnya akan memberikan sistem pendidikan terbaik. Saat itu, di tahun 1960, melalui segudang test yang cukup rumit, ia pun berhasil di terima di Fak. Sastra Universitas Indonesia, Jurusan Anthropologi yang banyak berkutat dengan kebudayaan dan perilaku manusia sejak mulanya. Melalui jurusan ini pula ia sempat melakukan penelitian mendalam terhadap perilaku suku terasing –-Dhani– di Papua pada tahun 1972, yang mengantarkannya mencapai gelar sarjana penuh.

Selama menjadi mahasiswa, pribadi yang tangguh dengan idiologi sosialisnya mulai terbentuk. Melihat banyak rekan-rekan seangkatannya yang lebih memilih jalur politik praktis untuk mencapai kemapanan. Ia dan rekan lainnya malah memilih alam sebagai media pengembangan diri. Menurutnya, hanya di alam kita bisa mengenal karakter masing-masing yang sebenarnya. Tak ada yang tersembunyi. Di alam pula kita bisa memupuk rasa solidaritas dan kecintaan terhadap ciptaan Tuhan yang bisa dinikmati.

”Politik tai kucing”, Begitu tutur Herman Lantang, sahabat Soe Hok Gie ketika senat mahasiswa tidak menjadi sesuatu seperti harapan Soe serta kawan-kawannya yang lebih memilih menikmati film dan naik gunung; bukan serta-merta mengidentifikasi dirinya dalam organisasi mahasiswa tertentu di dalam kampus. Dalam jurnal harian Soe yang kemudian dibukukan dan dicetak oleh LP3ES “Catatan Seorang Demonstran”, Gie juga menulis bahwa politik itu kotor.

Kemudian, ketika tak lagi berkegiatan di dalam kampus, jiwa petualangan pula yang membuat Herman bisa di terima di beberapa perusahaan pengeboran minyak ternama, seperti: Oil Field all part of Indonesia, East Malaysia Egypt dan Australia East Texas USA. Di perusahaan tersebut ia lebih terkenal sebagai Mud Doctor, yang menangani masalah lumpur-lumpur dalam pengeboran minyak bumi. Sebuah pekerjaan yang memang sangat jauh dari disiplin ilmu yang dulunya hanya Fakultas Sastra. Namun untuk profesi barunya itu, ia tidak main-main. Herman bahkan sempat mengecam pendidikan singkat di Houston Texas pada tahun 1974 mengambil studi tentang “Mud School”.

Memilih menjadi penjual kue

Kini, Herman O Lantang, sahabat tokoh pergerakan mahasiswa 1960-an Soe Hok-gie, sudah pensiun bekerja dari perusahaan minyak. Pria uzur yang ternyata sangat suka wisata kuliner ini memendam bakat dalam memasak. Sehingga jangan heran, ketika berkegiatan di alam bebas, hasil masakan bang Herman, pasti langsung habis dilahap.

Kecintaannya terhadap dunia boga ini pula yang membuatnya banting stir menjadi pengusaha  toko kue sejak dua tahun silam. Dengan modal ala kadarnya, rumahnya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan pun disulap menjadi toko kue “Kelapa Tiga Taart Tempo Doeloe”, yang menjual aneka panganan kue-kue klasik yang menurutnya agak susah ditemukan di Jakarta.

Si pemilik nomor anggota Mapala UI (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia) M 016 UI, yang juga mantan ketua Mapala UI (1972-1974), ini lebih banyak berkutat dengan ide-ide pembuatan kue istimewa, selain menjadi pembicara di seminar-seminar yang berhubungan dengan kegiatan alam bebas..

Didampingi oleh satu dari tiga anaknya, ia memasak sendiri kue-kue itu. Herman mengaku memiliki banyak buku resep kue klasik Belanda, sebut saja oentbijkoek dan klappertaart. Selain itu, ia juga punya tante yang jago masak kue Belanda. Biasanya di suatu kesempatan sang tante akan menularkan kemampuannya memasak kepada keluarga yang lain.

Cerita tentang meninggalnya Gie

Herman Lantang, seorang kawan karib Soe Hok Gie, mengungkapkan peristiwa yang terjadi empat puluh tahun lalu itu, seperti baru terjadi kemarin. Sepertinya, dia orang yang paling kehilangan sosok Soe. Karibnya itu meninggal dalam pangkuannya ketika akan merayakan ulang tahun di puncak gunung Semeru pada 1969.

Malam itu, ketika suara jangkrik di kejauhan semakin melemah, Herman yang saat itu duduk di atas batu yang lebih tinggi, mulai menularkan pengalamannya perihal meninggalnya Soe, sobat karibnya itu. Kami yang merasa beruntung dengan pelajaran sejarah gratis seperti itu, langsung mengerubunginya dengan duduk melingkar.

Sebelum kuliah gratis itu di gelar, aku masih ingat, betapa ia sangat marah ketika mengetahui ada teman yang sengaja memotong daun pisang untuk alas duduk malam itu. Menurutnya, tak secuil pun kita boleh melukai alam, even hanya mengambil daun atau rantingnya. “biar mereka (baca: tumbuhan) hidup atau mati dengan sendirinya”, kilahnya. Melihat itu, aku merasa bahwa sikap orang tua ini begitu konservatif. Apapun itu, merupakan pilihan bijak untuk melihat alam tetap lestari.

Ketika semua duduk manis, secara perlahan ia mulai bercerita tentang meninggalnya Soe di puncak Semeru, puluhan tahun silam. Menurutnya, tragadi itu bermula saat mereka berhasil menapak di kawasan puncak Semeru yang saat itu ditutupi abu tebal. Mereka (Soe, Herman dan Idham) yang kala itu berjalan dalam deretan belakang telah tertinggal jauh dengan rombongan lain (baca: Rudi Badil, Aristides Katopo, Fredi Lasut, Maman dan Wiwiek) yang ternyata telah muncak lebih dahulu.

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) dengan semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, anggota tim rombangan pertama tadi langsung melanjutkan perjalanan pulang. Kini, tinggallah mereka bertiga (Herman, Soe dan id